Mittwoch, 26. November 2008

Sehr geehrte Frau Arbeitgeberin...

Nanti malam saya akan interview kerja nih...... Ini interview kedua dalam hidupku. Ya ampun kalo mengingat interview pertamaku, sudah bagaikan diambil setengah nyawaku ini, saking gugupnya aku waktu interview. Sekarang aja aku dah gugup. Padahal interviewnya baru nanti malam. Aku sekarang sibuk meyakinkan diriku kalo aku bisa melakukan pekerjaan yg aku lamar ini. Kira2 begini kesibukan pikiranku saat ini:
- menghadapin 20 anak seorang diri, ah gampang sri, kan dah pernah. (iya sih dah pernah, tapi kan sering ada yg dampingin) DAh PERNAH.....yg penting kan itu, waktu kamu lakuin sendiri kan baik2 aja, dan lu seneng ngelakuinnya. (iya sih... tapi....) Gak ada tapi...tapi... pokoknya yakin aja kalo bisa!!
- jagain anak makan siang... ah bisa lah, apa susahnya sih. (tapi... kalo anak2nya bandel dan liar2 gimana?) eh sri... lu kan pernah jagain anak2 yg liar2 dan gede2 juga, pasti bisalah. (tapi waktu itu kan gak jagain mereka makan) tapi dulu kan lu pernah jagain anak2 makan siang juga, kan gak susah...(waktu itu gua kan gak sendiri...) tapi sendiri kan lu juga pasti bisa, kalo anak2nya laper kan pasti mereka sibuk makan (iya kalo laper, kalo gak gimana, kalo pada mulai ngelempar2 makanan gimana....) yaela..... liat dulu kali anak2nya gimana, kalo kepepet nyontek temen kerja lu aja cara bikin anak2 itu makan dengan baik dan benar gimana...
- bantuin anak2 bikin PR (aduuuuuuuuh.... repot... kalo matematik mah yakin, tapi kalo grammer bhs jerman, kan repot tuh, malu kali kalo ntar salah) yaelah..... cobain aja dulu kali, lagian PR anak2 SD masa gak bisa bantuin sih??? lu kan dah lulus kuliah, belajar nulis n baca n berhitung kan gak susah kali (iya sihhhhhh tapi..... gua aja gak suka disuruh bikin PR, masa gua bisa ngeyakinin anak2 itu buat bikin PR) ah bisa lah.... kan kalo mereka selesai bikin PR bisa maen, dimotivasiin gitu loh......
- bikin program permainan untuk 20 anak (hmmmm ada banyak rencana sih, dan banyak idee, tapi kalo gagal gimana...) udah bagus ada ideee...org lain gak punya ideee....... ccobain dulu kali... kan orang kerja gak langsung perfekt.

hhhhhhh....... nanti malam daku harus menjual dan mengiklankan diriku, kalo aku paling ok buat pekerjaan itu. repot!!!

Dienstag, 25. November 2008

O mi God...

Sekadar info, aku kuliah ilmu pendidikan alias Erziehungswissenschaft. Sekadar info lagi, aku bukan kuliah untuk menjadi guru, melainkan lebih mengkonsentrasikan diri dgn tempat pendidikan2 di luar sekolah. Titik berat kuliahku berkisar di bidang psikologi pendidikan, di mana aku berkutat dgn pertanyaan2 seperti pada umur berapa seorg anak seharusnya sudah bisa apa, atau keadaan normal yg bagaimana untuk seorang anak pada umur2 tertentu. Belum lama ini aku baru lulus kuliah, dan aku balik di ke jakarta untuk berlibur. tentunya sempat terpikir untuk bekerja di jakarta. lalu aku mulai memperhatikan ttg trend2 pendidikan di indonesia, dari TK bilingual, sampe Home schooling dst, dst... O mi God.. aku bingung dan merasa bodoh. Sekian lama belajar ttg teori2 mendasar di kuliah, sekarang dihadapkan dgn sekian banyak trend2 yg tentunya semua berargumentasi bahwa mereka melakukan semuanya demi anak2 saja. ok itu di jakarta, di mana semua trend pasti ada yg ngikutin dan cepat sekali berubah, karena entah kenapa org2 jakarta cepat merasa hrs ngikut, jadi trend cepat muncul tapi juga cepat hilang.
ternyata oh ternyata fenomena kebingungan orangtua ttg cara mendidik seorg anak juga ada di jerman. bedanya... kalo di jakarta dgn cara dibukanya sekian macam jenis sekolah, TK ato tempat2 ngeles. di jerman orang2 pemerintahannya yg bingung. maklum... belum lama ini kan ada skandal kalo anak2 jerman di ranking PISA (http://en.wikipedia.org/wiki/Programme_for_International_Student_Assessment) agak2 memalukan. Di jerman pun mulai dipertanyakan ilmu apa saja yg hrs mulai diberikan ke anak2 dari umur berapa saja. Pentingkah mereka mulai belajar bhs cina sejak berumur 3 tahun? atau mulai belajar fisika? atau semua itu akan bikin anak2 makin stress dan sebaiknya mereka hanya lebih sering menyanyi dan menari?
Lucunya semua kebingungan itu mulai dirasa oleh orgtua2 jaman sekarang yg biasanya hidupnya susah makmur dan anaknya gak banyak (di jakarta juga begitu, di desa di indonesia gak ada orang tua yg bingung gimana hrs mendidik anak tuh). kepercayaan diri orang tua akan intuisi mereka sebagai orang tua mulai melemah dengan semakin suksesnya mereka di dunia pekerjaan. Sebenernya keadaan ini makin baik untukku, karena kalo semua org tua seperti orgtua2 jaman thn 40-50an di jerman, maka lapangan pekerjaan untuk aku makin sedikit, sebab mereka tau dan kenal apa yg dibutuhkan oleh anak2 mereka sendiri dan tidak perlu org2 macam aku yg memberitahu mereka bahwa menurut peneliti XY anak seumur XY itu sebaiknya diberi XY.

Freitag, 31. Oktober 2008

Freiheit und Gleichheit

Temanku kemarin bilang kalau "Freiheit und Gleichheit" alias kebebasan dan keadilan sulit dilakukan secara bersamaan. Di mana setiap orang bebas mengekspresikan dirinya maka sulit untuk menjaga situasi supaya setiap orang mendapatkan keadaan yang sama atau adil. Saat semua orang bebas berlaku dan bertindak sesuka hati, maka susah menjaga supaya tidak ada yg merasa terganggu oleh tindakan orang lain, dalam arti keadaan di mana semuanya "happy".
Diskusi kita berasal dari kasus guru turki di jerman dilarang memakai kerudung saat mengajar. Saat semua org bebas mengekspresikan dirinya, mengapa masih ada larangan itu, demikian kata temanku. Tapi selalu akan ada larangan kataku, contohnya orang berpakaian koteka juga tidak akan boleh mengajar di sekolah jerman. Tetapi dua hal itu beda, kata temanku lagi. Tentu saja beda.
Memang masalah ini rumit, kita berargumentasi dari effek kerudung untuk wanita, apakah kerudung benar2 diwajibkan di quran, sampai effek pemakaian kerudung seorang guru untuk murid2nya, sampai hak2 azasi manusia di jerman yang mungkin dibatasin oleh adanya larangan ini, sampai sejarah jerman sebagai negara berbudaya kristen, sampai bedanya budaya dengan agama dst......
Setelah menghabiskan dua bir dan dua piring kentang goreng dan jam sudah menunjukan pukul 00.20 kita semua bergegas menuju halte bis untuk mengejar bis masing2. Diskusi kita tidak kita selesaikan dalam arti tidak ada kesepakatan.
Tapi perkataan temanku itu berbekas di telingaku:
Di mana ada kebebasan sulit untuk mengadakan keadilan dalam arti persamaan. Itu pula kenapa di setiap negara demokrasi ada sedikit banyak perbedaan status sosial, sebab di situ ada kebebasan, dan di setiap negara komunis di mana faktor persamaan dijunjung tinggi orang2nya merasa tidak bebas.
Herannya Freiheit und Gleichheit atau kebebasan dan keadilan sering dipasangkan dalam berbagai slogan, contoh yang paling terkenal slogan revolusi prancis: liberte, egalite dan fraternite (penulisannya salah, aku tau) di sini bisa kita liat lagi kata liberte = kebebasan, dan egalite=keadilan dalam arti kesamaan juga disejajarkan.
Memang untuk memenuhi kedua syarat itu yang penting untuk diperhatikan adalah kadar atau dosisnya. Jadi berapa dosis kebebasan yg bisa diberikan supaya keadilan masih bisa dipertahankan. Dan permasalahan dosis itu memang permasalahan yang selalu menjadi biang keladi banyak masalah di dunia ini.
lila_angel

Mittwoch, 26. März 2008

Einführung in Lila

Der Begriff Violett ist dem französischen Begriff für Veilchen (violette) entlehnt. Im Lateinischen gibt es den Begriff "violaceus", der laut Langenscheidt aus einer Mittelmeersprache in das Lateinische als Fremdwort eingewandert ist und die Farbe des Veilchens (Viola) bezeichnet. Ostwald nutzte eindeutschend den Begriff „veil“.

Der Begriff Lila wurde während der Kreuzzüge aus dem Sanskrit über das Persische und das arabische Wort für Flieder (lilak) nach Spanien und von dort aus nach Frankreich gebracht. Aus dem daraufhin entwickelten französischen Lehnwort "lilas" (Flieder) entwickelte sich schließlich durch phonetische Transkription das deutsche Wort.

Der Begriff Magenta geht auf die Schlacht von Magenta, einer norditalienischen Stadt, zurück.

Für die violetten Farbtöne, also die zwischen Rot und Blau, gibt es mehrere Worte, die sich in der Bedeutung etwas unterscheiden.

Die Farbe Violett grenzt an Purpur, auch dunkles Purpur genannt.
Die Farbe Lila ist helleres Violett, alt auch mittleres Purpur genannt
Die Farbe Magenta ist helleres Lila, alt auch helles Purpur genannt.
Die Modefarbe Pink ist das grelle, verweißlichte (pastelle) Violett.

Trotz des sehr unterschiedlichen Eindrucks der violetten Farbtöne ist im Alltag die Anwendung der Worte für diesen Farbbereich verwischt. Meist werden Mischfarben von Rot oder Blau angegeben, bläulisches Rot oder rötliches Blau, sogar als Rotblau.

Symbolik


In der christlichen Kirche ist Violett die liturgische Farbe für den Advent und die Fastenzeit. Es ist die Farbe der Besinnung, der Buße, der Einkehr und Umkehr.

Obwohl Violett in der Natur vorkommt, war es lange Zeit technisch nicht möglich, einen Farbstoff zum Färben von Textilien herzustellen. Im Jahre 1856 stellte William Henry Perkin aus Steinkohleteer zufällig den ersten künstlichen Farbstoff Mauvin her. Zwei Jahre später August Wilhelm von Hofmann den Farbstoff Fuchsin.

In der deutschen Politik werden (rote) Violett-Töne von den Medien gebraucht, um bei symbolischen Präsentationen Die Linke (früher PDS) darzustellen und von der SPD zu unterscheiden. Für Eigenzwecke verwenden beide Parteien die Farbe Rot. Die Partei Die Violetten haben diese Farbe gewählt, weil sie für Spiritualität steht.

Verschiedene Farbbezeichnungen aus diesem Spektrum galten im Laufe der Zeit als Symbolfarben für Schwule und Lesben. In der Zwischenkriegszeit gab es Das lila Lied. Vor allem in den Vereinigten Staaten wurde auch die Farbe Mauve und später „Lavender“ verwendet.


Lila als Farbe der Frauenbewegung

Als Ausdruck von Frauenliebe und Unabhängigkeit (Freiheit) werden Rot-Blaue Farben erstmals von der auf der griechischen Insel Lesbos lebenden antiken Lyrikerin Sappho erwähnt. Ab der Produktion der ersten Stoffe mit dem ersten künstlichen Farbstoff wurde das blasse „Mauve, or violet colored silk“ von Godey's Lady's Book and Magazine zwischen 1858 bis 1869 als angesagte Modefarbe der besseren Leute namentlich erwähnt.[1] Auch berühmte Frauen beeinflussten mit Kleidungsstücken dieser Farbe die Modewelt. Im 19. Jahrhundert wurde die Farbe für die Frauenbewegung neu entdeckt. Lila als Mischung zwischen Rosa (weiblich) und Blau (männlich) gilt als Symbol für Gleichstellung zwischen den Geschlechtern. Schon die Plakate der ersten internationalen Frauentage wurden in in Lila gehalten. In den "Goldenen 1920er Jahren" kam die Farbe in Mode und in den 1970er Jahren war es für Feministinnen ein Muss lila gekleidet zu sein. Viele frauenpolitische Projekte bekamen einen Namen in dem das Wort Lila enthalten ist.


Blau oder Rot

Die deutsche Alltagssprache verwendet die Bezeichnung "Lila" nur selten. Bis ins Mittelalter gab es den Begriff überhaupt nicht, er wurde vermutlich über die Kreuzfahrer aus dem Orient überliefert. Bis dahin wurden lila-farbige Gegenstände je nach vorherrschendem Farbeindruck als Blau oder Rot eingeordnet. In den Sprachwissenschaften ist dies besonders markant an der regionalen Verbreitung der Begriffe Rotkraut und Blaukraut untersucht worden, die jeweilige Form der Zubereitung des Farbkohls gibt den Farbton, der Zusatz von konservierendem Essig bewirkt eine klare Lilafärbung, während die ›süßere‹ süddeutsche Bereitung zum bläulichen Violett des Blaukrautes führt.


Quelle: Wikipedia stand 25.03.08




Montag, 24. März 2008

Die Farbe Lila

Ich weiss nicht seit wann ich die Farbe Lila mag. Ich kann mich noch sehr gut erinnern, dass ich früher lilafarbene Trauben als Lieblingsfrucht benannt habe, nur weil sie lila sind. Der Geschmackt war mir eigentlich egal. Nun ja... die Farbe lila hat allgemein eigentlich keinen großen Anklang bekommen. Diese Farbe wird als eine Farbe von Witwen gesehen. Aber in der Bibel wird eine lilafarbene Stoff als sehr wertvoll gesehen, oder war es purpur?? tja...hier kann man schon sehen, dass ich meine Lieblingsfarben etwas vereinfacht unter der Farbe Lila bezeichnet habe. Es ist nämlich sehr unterschiedlich ob etwas lila, violet oder purpur ist. Ich mag sie alles....... Neulich war sogar violet sehr modisch. Aber unter Mädchenbekleidung stehen pink und rosa immernoch als die Vorreiter schlechthin. Verstehe ich eigentlich nicht, wieso nicht lila oder violet eigentlich? Diese Farbe, die aus der Mischung von Blau und Rot erzeugt wird, soll eigentlich konzentrationsfördern und berühigend gleichzeitig, habe ich zumindest gehört. Hiermit hoffe ich, dass die Farbe Lila mehr beachtung in der Gesellschaft finden kann.